RSS

Buaya 7 Meter Kembali Meneror

09 Mar

BUAYA Ketakutan warga Desa Mukut Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin terhadap amukan buaya liar sepanjang 7 meter di perairan sungai Batanghari nampaknya makin menjadi. Kamis kemarin seekor buaya dengan warna kehitaman secara tiba-tiba kembali muncul di permukaan air di wilayah itu.

Kendati tidak berlangsung lama, namun kondisi itu cukup membuat cemas warga, bahkan sejumlah warga yang tengah berada tidak jauh dari pingiran sungai berlarian menjauh. Tak terkecuali, wartawan Sriwijaya Post yang tengah berada di lokasi Desa Mukut tepatnya di RT 5 dimana korban Trisnawati (25) dan tiga warga yang menjadi korban amukan binatang buas itu, juga merasa kaget dengan deru ombak air asin yang tenang itu, secara tiba-tiba air mengeluarkan gelombang. Sayang momen yang cukup langka itu tidak dapat terakam oleh kamera lantaran geraknya terlalu cepat.

Desa dengan penduduk 250 KK yang terdiri dari 7 Rukun tetangga (RT) itu merupakan desa yang cukup jauh dari ibu kota kecamatan pulau rimau, Banyuasin, paling tidak membutuhkan waktu lima jam untuk sampai tujuan dengan mengunakan kendaraan air speedbod . Sesampainya di Desa mukut, ternyata lokasi kejadian tempat 4 korban yang menjadi korban keganasan buaya liar itu masih cukup jauh, lantaran desa yang terdiri dari 7 Rt itu terpisah-pisah.

Di RT 5 inilah, memang jumlah penduduknya tidak terlalu banyak, hal itu terlihat dari rumah-rumah penduduk yang hanya belasan rumah, begitu juga jumlah warganya hanya sekitar 30 kk, Dan penduduk yang terbanyak terdapat di Rt 3 dan RT 1. Menurut penuturan sejumlah warga, biasanya mandi di tepian sungai Batanghari itu menjadi kebiasaan warga setiap hari, namun semenjak kejadian itu sejumlah warga yang tadinya mandi di sungai, kini nampak tidak lagi. Hal itu terlihat di sejumlah tempat pemandian warga nampa kosong sepi dari aktifitas, jauh sebelum kejadian ini terjadi suasana tempat pemandian warga biasa ramai. Namun kini tidak lagi, warga lebih memilih mandi di sumur-sumur yang ada.

“Kalau mandi baik pagi ataupun sore kami biasanya mandi di sini, tapi sekarang takut, lantaran ada buayanya,” ujar Rizal warga setempat. Menurut Rijal, banyaknya warga yang menjadi korban keganasan buaya itu, cukup membuat warga cemas dan merasa takut terutama ketika akan mandi. Sehingga untuk amannya warga lebih memilih mandi di sumur. Bukan hanya itu, kecemasan warga nampak menjadi karena munculnya kembali buaya tersebut. “Munculnya buaya itu tak menentu, sehingga membuat warga serba salah, apalagi warga yang selama ini menjadi incaran buaya itu tidak lagi mandi sungai, ditakutkan binatang buas ini masuk ke perkampungan warga,” katanya.

Untuk itu, warga berharap kiranya proses penangkapan binatang buas ini segara di lakukan.agar kecemaasan warga tidak berlarut lama. “Harapan kami, buaya itu segara di tangkaplah, biar warga tidak cermas dan merasa ketakutan,” katanya. Kepala Desa Mukut Ismiyanto yang menemani sripo melihat aliran sungai batanghari mukut wilayah itu mengatakan saat ini warga benar-benar ketakutan. “Tak satupun warga yang berani mandi di sungai ini,” katanya.

Menurutnya, mengamuknya buaya ini kemungkinan lantaran merasa terusik, lantaran rawa-rawa yang selama ini menjadi habitan buaya itu saat ini dibuka oleh PT Hindoli menjadi kebun plasma sawit. “Selama ini ngak ada masalah, nah semenjak rawa-rawa di wilayah mukut itu di buat petak-petak kebun plasma sawit milik PT Hindoli, muncul masalah ini,” katanya.

Untuk menenangkan warga, terang Ismiyanto, semalam warga mengelar sedekah kampung dengan memotong kambing, hal itu sebagai upaya memohon pertolongan yang kuasa agar peristiwa yang mematikan ini tidak terulang lagi. “Semalam, selesai shalat Isha, warga menggelar sedekah kampung dengan berdoa bersama yang di sertai dengan menyembeli seekor kambing, ini dilakukan sebagai upaya tolak balak, katanya.

Menurut Kades yang baru saja terpilih sebagai kades untuk kedua kalinya pada 25 februari beberapa hari lalu ini, pihaknya telah melarang keras warga untuk mandi dan melakukan aktifitas menangkap ikan di wilayah itu. “Sebelum buaya itu berhasil di tangkap, warga kita larang untuk mandi di sungai, solusinya warga kita arahkan untuk mandi di sumur-sumur yang ada di wilayah desa Mukut ini.”

Diterangkan Ismiyanto, agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, kasus ini telah kita laporkan ke Polsek Pulau Rimua. “ Kita berharap, petugas dapat membantu warga menangkap, kalau memang diperlukan ditembak,” tuturnya. Selain itu warga juga melakukan jaga malam di kampung masing-masing untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Warga secara bersama-sama melakukan jaga malam, untuk mengantisifasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” tandasnya.

Sungai Batanghari Mukut yang bermuara langsung dengan sungai penuguan , sungai lalan dan sungai musi ini nampak tenang, di kanan dan kiri sungai nampak di tumbuhi semak belukar. Begitu juga dengan air yang secara sekilas berwarna kecoklatan itu nampak tenang dan seolah tidak mengalir. Sementara itu, Trisnawatibinti Mulatif (25) salah seorang korban yang saat ini tengah di rawat di RSUD Banyuasin nampak sudah mulai sehat, kaki kanannya yang mendapat 50 jahitan nampak mulai dapat digerakkan, walaupun masih terasa nyeri. Bahkan, Sripo yang sempat mengunjunginya di sal nomor dua RSUD banyuasin itu nampak sudah mulai melakukan komunikasi dengan ibunya Rohima, hanya saja untuk makan dan minum masih dibantu para keluarga yang menunggunya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 9, 2008 in lingkungan

 

2 responses to “Buaya 7 Meter Kembali Meneror

  1. MR. JM

    Maret 10, 2008 at 4:18 am

    SEYOGYANYA KEPALA WILAYAH SETEMPAT MELAPORKAN KEJADIAN INI KEPADA LEMBAGA , YANG MENANGANI SATWA LIAR INI, KALAU PERLU BUAYA TERSEBUT DIRELOKASI KETEMPAT YANG JAUH DARI PEMUKIMAN PENDUDUK, WALAUPUN PADA DASARNYA KEHIDUPAN MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA SDH DITATA SEDEMIKIAN RUPA NAMUN KEBUTUHAN SATU SAMA LAIN MAKIN TAHUN MAKIN MENINGKAT SEHINGGA TERJADI KONFLIK KEPENTINGAN

     
  2. aan

    Januari 17, 2011 at 4:17 am

    kami menyikapi dr penelusuran buaya buaya buas di perairan bukan karena habitat di buka oleh perorangan atau pun perusahaan karena buaya tidak mungkin bisa hidup di air asam hutan hutan bukan penyebab buaya buas menurut kades ismiyanto .akan akan tetapi karena berkembang biak nya buaya buaya tersebut terlalu banyak apa lagi di sepanjang sungai mukut ke sungai muara tungkal teluk tenggulang tidak di buru coba anda menelurui di malam hari pasti ketemu kecil mau yg besar mohon pihak yang berkepentingan mohon tanggapan bagaimana menanggulangi nya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: