RSS

ngomong masalah komputer

09 Mar

Dunia komputer di Indonesia tahun-tahun belakang ini berkembang sangat cepat. Kalo jaman dulu kira-kira empat tahun yang lalu harga computer masih sangat mahal. Komputer dengan spek yang masih relatif lomot untuk tahun-tahun ini harganya masih muahal jutaan bgt. Kalo kata seorang penjual computer di Jogja sih jaman Ga Enak alias a lot he he karena emang bikin untung kecil banget.

Artikel berikut akan memberiakan perkembangan dunia computer saat ini khususnya di Indonesia:

InGrid: Komputer Super Virtual

Universitas Indonesia dan Sun Microsystems meluncurkan InGrid: sistem komputasi grid pertama di Indonesia. Bayangkan jika sejumlah server di semua perguruan tinggi bisa disatukan menjadi supercomputer virtual. Seorang peneliti kimia Universitas Gadjah Mada yang ingin memodelkan protein dan membutuhkan sumber daya komputasi yang besar bisa memanfaatkan komputer-komputer di Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Itu bisa ia lakukan sekali jalan dari Bulak Sumur, Yogyakarta, tanpa harus menghubungkan diri ke tiap server tersebut.

Teknik komputasi seperti ini hanya mungkin jika semua server itu membentuk grid computing atau komputasi grid. Syukurlah, cikal-bakal komputasi grid Indonesia diluncurkan oleh Universitas Indonesia dan Sun Microsystems di Kampus UI, Depok, Rabu pekan lalu. Namanya InGrid, kependekan dari INHERENT Grid, karena berada di atas tulang punggung jaringan informasi miliki Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, INHERENT (Indonesian Higher Education Network).

Menurut Bobby A. A. Nazief dari Grid Computing Research Group pada Fakultas Ilmu Komputer UI, komputasi grid sangat cocok untuk geografis Indonesia. “Lokasi sejumlah server terpisah di seluruh Indonesia, tapi secara logical bisa menjadi satu sistem komputer,” ujar Bobby, yang juga menjadi penanggung jawab InGrid.

Memang untuk saat ini InGrid belum menjadi Indonesian Grid karena baru UI yang menyediakan mesin-mesin penyedia sumber daya komputasi. Mesin-mesin itu dikumpulkan membentuk sebuah cluster bernama Hastinapura. Bobby berharap perguruan tinggi lain di Indonesia bisa berpartisipasi membangun Indonesian Grid.

Indonesia, menurut Bobby, termasuk lambat mengadopsi komputasi grid ketimbang negara tetangga. Thailand memulai proyek ini sejak 2002 dengan menginvestasikan US$ 6 miliar dan melibatkan 10 universitas, badan meteorologi dan geofisika, serta badan pengkajian teknologi. Singapura punya National Grid Project pada September 2002, yang didukung oleh tiga universitas dan lima kementerian. Sedangkan Malaysia pada 2005 mengajukan proposal National Technology Roadmap for Grid Computing, yang dikenal dengan nama MOSTI.

InGrid saat ini menyediakan cluster berbasis Debian GNU/Linux 3.1 “Sarge”. Cluster Hastinapura ini terdiri atas worker node berupa 16 simpul server Sun Fire X2100 yang berprosesor AMD Opteron 2,2 Ghz (dual core), portal InGrid atau head node berupa Sun Fire X2100 RAM 2 gigabita, dan storage node berprosesor Dual Intel Xeon 2,8 Ghz dengan kapasitas penyimpanan 1 terabita (3 x 320 gigabita).

Menurut Bobby, benchmark Hastinapura mencapai 75 gigaFLOPS (mampu melakukan 75 x 10^9 perhitungan dalam satu detik). Hastinapura menyediakan lingkungan pemrograman bahasa C, Java, dan software parallel berbasis Message Passing Interface (MPI), juga aplikasi Gromach (kimia), Blast (biologi), Povray (grafis), dan utilities seperti perkalian matriks.

Setiap mahasiswa dan dosen yang bisa terhubung ke INHERENT otomatis dapat mengakses InGrid melalui InGrid Portal (https://grid.ui.ac/portal). Mereka bisa mendaftar untuk mendapatkan account. Setelah log-in, pengguna bisa memilih cluster, memakai layanan untuk mengirimkan pekerjaan (job). Pengguna bisa menentukan aplikasi yang akan dieksekusi, parameter, jenis job, jumlah prosesor yang hendak digunakan, serta konfigurasi lainnya. Pengguna juga bisa melihat status job yang dikirimkannya.

InGrid memang baru berumur satu setengah tahun dan masih dalam tahap pengembangan. Diharapkan kian banyak pengguna yang mencobanya. Bukan tak mungkin kelak muncul sejumlah cluster baru berbasis Solaris atau Windows begitu perguruan tinggi lainnya di Indonesia dan lembaga pemerintah bergabung.

Sumber : Koran Tempo (29 Agustus 2007) dan http://www.komputasi.lipi.go.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 9, 2008 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: